Senin, 26 Oktober 2015

SEJARAH KIMIA

 SEJARAH KIMIA

Sejarah kimia dimulai lebih dari 4000 tahun yang lalu dimana bangsa Mesir mengawali dengan the art of synthetic "wet" chemistry. 1000 tahun SM, masyarakat purba telah menggunakan tehnologi yang akan menjadi dasar terbentuknya berbagai macam cabang ilmu kimia. Ekstrasi  logam dari bijihnya, membuat keramik dan kaca, fermentasi bir dan anggur, membuat pewarna untuk kosmetik dan lukisan, mengekstraksi bahan kimia dari tumbuhan untuk obat-obatan dan parfum, membuat keju, pewarna, pakaian, membuat paduan logam seperti perunggu.
     Mereka tidak berusaha untuk memahami hakikat dan sifat materi yang mereka gunakan serta perubahannya, sehingga pada zaman tersebut ilmu kimia belum lahir. Tetapi dengan percobaan dan catatan hasilnya merupakan sebuah langkah menuju ilmu pengetahuan.
     Para ahli filsafat Yunani purba sudah mempunyai pemikiran bahwa materi tersusun dari partikel-partikel yang jauh lebih kecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (atomos). Namun konsep tersebut hanyalah pemikiran yang tidak ditunjang oleh eksperimen, sehingga belum pantas disebut sebagai teori kimia.
     Ilmu kimia sebagai ilmu yang melibatkan kegiatan ilmiah dilahirkan oleh para ilmuwan muslim bangsa Arab dan Persia pada abad ke-8. Salah seorang bapak ilmu kimia yang terkemuka adalah Jabir ibn Hayyan (700-778), yang lebih dikenal di Eropa dengan nama Latinnya, Geber. Ilmu yang bari itu diberi nama al-kimiya (bahasa Arab yang berarti “perubahan materi”). Dari kata al-kimiya inilah segala bangsa di muka bumi ini meminjam istilah: alchemi (Latin), chemistry (Inggris), chimie (Perancis), chemie (Jerman), chimica (Italia) dan kimia (Indonesia).
     Sejarah kimia dapat dianggap dimulai dengan pembedaan kimia dengan alkimia oleh Robert Boyle (1627–1691) melalui  karyanya The Sceptical Chymist (1661). Baik alkimia maupun kimia mempelajari sifat materi dan perubahan-perubahannya tapi, kebalikan dengan alkimiawan, kimiawan menerapkan metode ilmiah.
     Pada tahun 1789 terjadilah dua jenis revolusi besar di Perancis yang mempunyai dampak bagi perkembangan sejarah dunia. Pertama, revolusi di bidang politik tatkala penjara Bastille diserbu rakyat dan hal ini mengawali tumbuhnya demokrasi di Eropa. Kedua, revolusi di bidang ilmu tatkala Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) menerbitkan bukunya, Traite Elementaire de Chimie, hal ini mengawali tumbuhnya kimia modern. Dalam bukunya Lavoisier mengembangkan hukum kekekalan massa. Penemuan unsur kimia memiliki sejarah yang panjang yang mencapai puncaknya dengan diciptakannya tabel periodik unsur kimia oleh Dmitri Mendeleyev pada tahun 1869.

STOIKIOMETRI

Rangkuman Materi Stoikiometri

I. HUKUM DASAR ILMU KIMIA

A.  Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier)
      “Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama”.
      Contoh:
      S + O 2 → SO 2
      2 gr 32 gr 64 gr
B. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)
     “Perbandingan massa unsur dalam tiap senyawa adalah tetap”
      Contoh:
      H 2 O → massa H : massa O = 2 : 16 = 1 : 8
C. Hukum Perbandingan Berganda (Hukum Dalton)
     “Jika dua unsur dapat membentuk dua senyawa atau lebih, dan massa salah satu unsur sama,      perbandingan massa unsur kedua berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana”.
      Contoh:
      – Unsur N dan O dapat membentuk senyawa NO dan NO 2
      – Dalam senyawa NO, massa N = massa O = 14 : 16
      – Dalam senyawa NO 2 , massa N = massa O = 14 : 32
      – Perbandingan massa N pada NO dan NO 2 sama maka
         perbandingan massa O = 16 : 32 = 1 : 2
D. Hukum Gas Ideal
    Untuk gas ideal atau suatu gas yang dianggap ideal berlaku rumus :
    PV = n RT
  
 \frac{P_1V_1}{n_1 RT_1} = \frac{P_2V_2}{n_2 RT_2}
    Keterangan:
    P = tekanan (atmosfir)
    V = volume (liter)
    n = mol = gram/Mr
    R = tetapan gas (lt.atm/mol.K)
    T = suhu (Kelvin)
    Dari rumus tersebut dapat diperoleh :
rangkuman materi stoikiometri

II. MASSA ATOM RELATIF DAN MASSA MOLEKUL RELATIF

rangkuman materi stoikiometri

III. KONSEP MOL

A. Dalam ilmu kimia satuan jumlah yang digunakan adalah mol
B. satu mol adalah sejumlah zat yang mengandung 6,02 x 10^23 partikel

Hubungan Mol dengan jumlah partikel
Jumlah Partikel = mol x 6,02 x 10^23
mol = Jumlah partikel / 6,02 x 10^23

Hubungan Mol dengan Massa 
Untuk unsur :
  • mol = gram / Ar
  • gram = mol x Ar
Untuk senyawa :
  • mol = gram/Mr
  • gram = mol x Mr
Hubungan Mol dengan Volume Gas
Setiap satu mol gas apa saja keadaan standard (0oC, 1 atm) mempunyai volume : 22, 4 liter.
  • Volume gas = mol x 22,4
  • mol = Volume / 22,4
Hubungan mol, jumlah partikel dan hubungan gas dapat digambarkan dalam bentuk
diagram sebagai berikut :
rangkuman materi stoikiometri

IV. PERSAMAAN REAKSI

Suatu reaksi benar jika memenuhi :
• Hukum kekekalan massa
• Hukum kekekalan muatan

Untuk memenuhi kedua hukum tersebut, koefisien reaksi harus disetarakan.
Dalam suatu reaksi, koefisien reaksi menyatakan : Perbandingan mol atau untuk fase gas juga menyatakan perbandingan volume.
rangkuman materi stoikiometri
Keterangan :
Berat = mol x Mr (atau Ar)
Jumlah partikel = mol x 6,02 x 10^23
Volume (0oC , 1 atm) = mol x 22,5 L

V. RUMUS EMPIRIS DAN RUMUS MOLEKUL

Rumus Empiris : rumus yang menyatakan perbandingan terkecil atom-atom dari unsur-unsur yang menyusun suatu senyawa.
Rumus Molekul : rumus yang menyatakan jumlah atom-atom dari unsur-unsur yang menyusun satu molekul senyawa.
rangkuman materi stoikiometri